INDOZONE.ID - Tim dosen Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) menyelenggarakan pelatihan bisnis dan pemasaran digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner kue tradisional di RT 4/RW 6, Ciledug, Tangerang, pada Senin 20 Juli 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital sekaligus memperkuat peran mereka sebagai pelaku gastrodiplomasi, yang mampu memperkenalkan kuliner Indonesia kepada masyarakat secara lebih luas.
Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya pelaku UMKM yang belum mengoptimalkan digitalisasi dalam pengelolaan bisnis maupun strategi pemasaran.
Kondisi tersebut menyebabkan jangkauan pasar masih terbatas sehingga peluang untuk memperluas pemasaran, termasuk ke pasar internasional, belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga: Mahasiswa KKN Undip Lestarikan Kuliner Tradisional Boyolali Lewat Pengembangan UMKM Lempok
Dalam pelatihan ini, tim dosen USNI memberikan materi mengenai pemanfaatan Meta Ads sebagai salah satu strategi pemasaran digital untuk mendukung pengembangan usaha.
Materi yang disampaikan meliputi dasar-dasar periklanan digital, pembangunan toko digital, penentuan target pasar yang spesifik, penyusunan anggaran iklan, hingga pembuatan konten pemasaran yang menarik dan efektif.
"Pelatihan Meta Ads ini penting karena dapat membantu UMKM menjangkau jutaan pengguna yang memiliki minat dan kebutuhan yang paling relevan dengan produk yang mereka tawarkan," ujar Yuli Setiawan, dosen Program Studi Manajemen USNI, dikutip pada Kamis (23/7/2026).
Yuli menjelaskan, bahwa pelaku UMKM perlu mengoptimalkan pemasaran digital seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia.
Melalui Meta Ads, pelaku usaha dapat memetakan target konsumen secara lebih tepat berdasarkan karakteristik, lokasi, minat, maupun perilaku pengguna.
Dengan strategi pemasaran yang lebih terarah, UMKM diharapkan mampu meningkatkan efektivitas promosi sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Alessandro Kurniawan Ulung, M.A., dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, dengan anggota tim Risqi Inayah Dwijayanti, M.I.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, dan Yuli Setiawan, M.A., dosen Program Studi Manajemen.
Pelatihan bisnis dan pemasaran digital ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema gastrodiplomasi yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif Nasional.
Yuli menambahkan, bahwa penguasaan pemasaran digital tidak hanya berkontribusi pada peningkatan penjualan, tetapi juga memperkuat daya saing UMKM kuliner di era digital. Melalui pemanfaatan teknologi, produk kuliner lokal memiliki peluang lebih besar untuk dikenal oleh konsumen dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Komunikasi Digital pun Jadi Sorotan
Sementara itu, Risqi Inayah Dwijayanti menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada aspek bisnis, tetapi juga pada penguatan kemampuan komunikasi digital para pelaku UMKM.
"Melalui pelatihan ini, kami berupaya meningkatkan kapasitas pelaku UMKM Idalicious dalam menguasai komunikasi digital, pemasaran berbasis media sosial, dan strategi bisnis digital yang efektif. Kami juga mendorong penerapan konsep gastrodiplomasi sebagai strategi untuk mengangkat nilai budaya di balik setiap produk kuliner. Dengan demikian, produk UMKM tidak hanya memiliki daya saing yang lebih tinggi, tetapi juga mampu menjadi media promosi budaya Indonesia di era ekonomi digital," jelas Risqi.
Menurut Alessandro Kurniawan Ulung, penguatan kapasitas bisnis dan komunikasi digital merupakan fondasi penting dalam Hb mendukung keberhasilan gastrodiplomasi. Pelaku UMKM tidak hanya dituntut menghasilkan produk kuliner yang berkualitas, tetapi juga harus mampu membangun usaha yang berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi digital.
"Untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada masyarakat internasional, UMKM harus memiliki bisnis yang sehat, berdaya saing, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Digitalisasi menjadi salah satu kunci agar kuliner lokal tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu menjadi instrumen gastrodiplomasi Indonesia di tingkat global," jelas Alessandro.
Ia menambahkan bahwa setiap produk kuliner tradisional tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mengandung identitas budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang dapat menjadi sarana diplomasi budaya Indonesia.
Tak ayal, kemampuan memasarkan produk secara digital perlu diimbangi dengan kemampuan menyampaikan cerita (storytelling) mengenai nilai budaya yang terkandung di balik produk tersebut.
Baca juga: USNI Latih UMKM Kuliner Menjadi Duta Gastrodiplomasi Indonesia
Kegiatan ini juga menjadi wujud kolaborasi lintas disiplin di lingkungan USNI yang melibatkan tiga program studi, yaitu Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Manajemen.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memberikan pendampingan yang komprehensif kepada pelaku UMKM, mulai dari penguatan strategi bisnis, komunikasi pemasaran, hingga pengembangan gastrodiplomasi berbasis kuliner.
Salah seorang peserta, Ida Widanengsih, pemilik UMKM Idalicious, mengapresiasi pelaksanaan program PKM USNI. Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahamannya mengenai pemasaran digital, tetapi juga memberikan motivasi untuk mulai menerapkannya dalam pengembangan usahanya.
"Pelatihan bisnis digital ini tidak hanya membuat saya lebih memahami pentingnya Meta Ads, tetapi juga memberikan wawasan mengenai berbagai hal yang perlu diperhatikan agar penggunaan iklan digital dapat berjalan secara efektif dan aman. Saya juga semakin memahami bahwa produk kuliner yang kami hasilkan memiliki potensi untuk menjadi media promosi budaya Indonesia," jelas Ida.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pers Rilis