INDOZONE.ID - Sandi Lubis, dosen muda dari Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), sukses menembus jaringan publikasi ilmiah internasional bergengsi Springer Nature, salah satu penerbit akademik terbesar di dunia.
Pencapaiannya ini membuat ia dipercaya menjadi Reviewer sekaligus Editorial Board Member untuk jurnal internasional Discover Artificial Intelligence yang diterbitkan oleh Springer Nature.
Baca juga: Dari Tambak ke Teknologi: Kisah Dosen BINUS yang Ubah Inovasi Lokal Jadi Dampak Global
Perjalanan akademik Sandi bermula dari sebuah desa di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Setelah menempuh pendidikan dasar di SDN 55 Maraongin, ia melanjutkan studinya hingga lulus S1 di STISIP Muhammadiyah Rappang tahun 2017.
Langkahnya terus berlanjut ke jenjang S2 di kampus yang sama, kemudian meraih gelar Doktor Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Kini, ia menjadi salah satu dosen tetap yang fokus meneliti bidang Teknologi Pemerintahan (ICT) dan kebijakan digital.
Sandi dikenal sebagai peneliti yang fokus pada isu-isu interdisipliner yang sedang berkembang global. Risetnya mencakup Big Data, Cybersecurity, Blockchain, dan E-Governance, dengan penekanan pada etika digital dan keberlanjutan sosial dalam implementasi teknologi AI di sektor publik.
Pendekatannya gak hanya berfokus pada aspek teknis, tapi juga pada bagaimana teknologi dapat diterapkan secara etis dan inklusif bagi masyarakat luas.
Selain menulis, Sandi juga menjadi pengulas tetap (reviewer) di berbagai jurnal internasional bereputasi tinggi, seperti Scientific Reports dan International Journal of Computational Intelligence Systems, mayoritas terindeks Scopus Q1.
Sejak menempuh studi doktoralnya, Sandi telah menghasilkan sembilan artikel terindeks Scopus dan dua buku internasional.
Di tahun 2025, Springer Nature secara resmi mengundangnya bergabung dalam dewan editorial, sebuah posisi yang menandakan kepercayaan dunia akademik internasional terhadap kontribusinya dalam bidang ilmu pemerintahan dan tata kelola digital.
Di balik prestasi gemilangnya, perjalanan Sandi tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami tujuh bulan penolakan naskah saat awal karier akademiknya.
Baca juga: Dosen BINUS Jadi Pembicara di Konferensi Game Internasional Bareng PlayStation di Malaysia!
Tapi, ketekunan dan mental baja membuatnya terus menulis dan memperbaiki kualitas risetnya hingga akhirnya menembus jurnal internasional bereputasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@publikasiku_id