Museum Brawijaya Malang.
INDOZONE.ID - Di tengah arus digitalisasi yang melanda hampir seluruh sektor kehidupan, upaya menjaga ingatan kolektif tentang sejarah bangsa Indonesia juga dituntut untuk beradaptasi.
Salah satu institusi yang tengah bertransformasi adalah Museum Brawijaya di Kota Malang.
Dikenal sebagai rumah bagi peninggalan sejarah perjuangan bangsa, museum ini kini tak hanya menjadi ruang senyap penuh artefak, tetapi perlahan beralih menjadi ruang yang lebih hidup dan interaktif, khususnya bagi generasi muda digital.
Baca Juga: 6.508 Pelajar Kunjungi Museum Batam Sepanjang 2024, Target Retribusi Terlampaui
Transformasi ini tak terjadi begitu saja. Di balik layar, empat dosen Universitas Bina Nusantara (BINUS) Kampus Malang Dika Sri Pandanari, Gedong Maulana Kabir, Windaningsih, dan Bhekti Setyowibowo terlibat aktif mendampingi proses perubahan tersebut melalui program pengabdian masyarakat.
Mereka menggandeng Museum Brawijaya untuk merancang ulang strategi komunikasi dan publikasi dengan pendekatan digital yang lebih segar dan relevan.
Mengapa Museum Perlu Berubah?
Selama ini, mayoritas pengunjung Museum Brawijaya berasal dari sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan edukatif.
Sementara itu, kehadiran masyarakat umum khususnya generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital masih minim. Tantangannya terletak pada cara museum berkomunikasi dan mempromosikan diri.
Di tengah dunia yang serba visual dan cepat, museum ini belum memiliki strategi digital yang mumpuni.
Apalagi, pengelola museum sebagian besar berasal dari lingkungan militer (TNI) yang memang lebih fokus pada pelestarian aset ketimbang strategi komunikasi publik.
Akibatnya, museum cenderung pasif dalam menjangkau publik di luar lingkup pendidikan formal.
Padahal, potensi sejarah yang dimiliki museum ini sangat kaya dan bisa menjadi sarana edukasi sejarah yang menyenangkan serta mudah diakses.
Transformasi Dimulai: Pelatihan & Pendampingan Digital
Program pengabdian masyarakat dari keempat dosen ini hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut.
Dengan metode pelatihan, lokakarya, dan pendampingan langsung, para pengelola museum dibekali keterampilan baru, mulai dari cara membuat konten media sosial yang menarik, memahami audiens digital, hingga mengoptimalkan platform seperti Instagram, Facebook, TikTok.
Salah satu fokus utama adalah bagaimana menyampaikan informasi sejarah dengan cara yang ringan namun tetap informatif.
Tidak hanya sekadar mengunggah foto koleksi, tetapi juga menceritakan latar belakang artefak, kisah para pahlawan, dan momen-momen penting dalam sejarah bangsa dengan bahasa yang relevan bagi generasi digital.
Bersaing di Era Digital, Bukan Sekadar Bertahan
Pendekatan yang digunakan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga membangun narasi yang membumi dan menyentuh.
Strategi Search Engine Optimization (SEO), pemanfaatan hashtag, hingga pengelolaan kampanye digital turut dilatih agar Museum Brawijaya bisa tampil di layar gadget para pencinta sejarah, pelajar, wisatawan, dan komunitas digital lainnya.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, proyek ini juga membuka ruang kolaborasi antara museum dengan komunitas sejarah, akademisi, dan kreator konten.
Ini menjadi langkah awal menjadikan museum sebagai ruang interaktif yang bisa dinikmati berbagai kalangan, tidak hanya pelajar sekolah yang datang karena agenda study tour.
Mimpi yang Tak Muluk: Museum yang Dikenal, Dicintai, dan Dikunungi
Harapan dari transformasi ini sederhana namun bermakna agar Museum Brawijaya lebih dikenal oleh masyarakat luas, menjadi ruang edukasi sejarah yang inklusif, serta mampu membangun hubungan yang kuat dengan generasi muda melalui platform yang mereka akrabi.
Melalui kolaborasi ini, sejarah tidak lagi hanya tertulis dalam buku atau terpajang diam di balik kaca. Sejarah menjadi hidup, bisa diklik, ditonton, dibagikan, dan yang terpenting dihidupi kembali oleh generasi masa kini.
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk, bikin cerita dan konten serumu, serta dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Banner Z Creators Binus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi