Selasa, 09 SEPTEMBER 2025 • 17:20 WIB

Kakek Rudy Raih Gelar Doktor di SBM ITB di Usia 73 Tahun, Bukti Belajar Gak Pernah Telat

Author

Rudy Setyopurnomo ITB (itb.ac.id)

INDOZONE.ID - Siapa bilang batas umur bisa stop mimpi? Di Wisuda ITB Agustus 2025, Rudy Setyopurnomo, wisudawan Program Doktor Sains Manajemen dari SBM ITB, tunjukin kalau semangat belajar itu timeless. 

Di usia 73 tahun 6 bulan, Rudy resmi jadi doktor dan jelas jadi wisudawan tertua di batch kali ini!

Baca juga: Inspiratif! Dedikasi Guru Berusia 87 Tahun di Kapuas yang Tetap Mengajar Meski Sudah Pensiun

Dari GMF ke Kampus: Perjalanan Panjang sang Inspirator

Rudy bukan orang baru di dunia profesional. Lulusan Teknik Mesin ITB tahun 1976 ini pernah jadi Kepala GMF Garuda Indonesia. 

Dia punya tangan dingin dalam bangun sistem perawatan pesawat nasional, dan ternyata perjalanan pendidikannya makin ambisius. 

Dia udah kantongi tiga gelar magister Manajemen (UI), Public Administration & Air Transportation Policy (Harvard), dan Airline Management (MIT).

Motivasi kuliahnya bukan sekadar gelar, tapi ingin ilmu yang dibagikan bisa concrete dan berdampak nyata.

Supaya bisa bantu perusahaan dan rumah sakit di Indonesia lebih disiplin, efisien, produktif, dan profitable,” ungkap Rudy Setyopurnomo, seperti yang dikutip dari laman resmi ITB, Selasa (9/9/2025)

Disertasi Super Praktikal: “Hospital Strategy Execution System.”

Topik disertasinya gak sembarangan. Dengan judul "Hospital Strategy Execution System by Maximizing Daily EBITDA to Enhance Operation Performance and Profitability". 

Rudy melakukan riset cara-cara mengubah RSUD yang ringsek jadi lebih sehat secara finansial, dan kenyataannya dia udah bantu puluhan rumah sakit daerah di Jakarta memperbaiki performa keuangan mereka.

Cara Kerja si Mental Baja

Meski terpaut jauh dari mahasiswa seusianya, semangat Rudy gak kalah muda. Dia tetap nongkrong di meja belajar sampai malam, nulis riset, dan berhasil menerbitkan dua artikel di jurnal Scopus Q1.

Rahasia suksesnya? 

Sinkronin riset di kampus dengan pekerjaan di kantor. Jadi bukan cuma belajar, tapi juga langsung bisa diaplikasikan. Irit waktu dan manfaat langsung terasa,” jelas Rudy.

Dia pernah ditolak ditolak dan dikritik, tapi dia ngejadiin itu sebagai energi positif. Bukannya nyerah, Rudy malah pakai penolakan sebagai motivasi untuk belajar lebih lanjut dan memperkuat argumen. 

"Semakin ditolak, semakin sempurna tulisanku," ungkap Rudy

Rudy juga gak sendirian nanjak S3. Istri yang juga magister (Boston University), anak-anak, hingga cucu-cucunya, selalu jadi cheerleader belakangnya dan tentunya, lingkungan akademik SBM ITB juga kasih dukungan penuh.

Bagi Rudy, gelar doktor ini bukan pencapaian pribadi belaka, tapi tanggung jawab untuk berbagi ilmu. 

Ilmu itu sia-sia kalau hanya dinikmati sendiri. Harapannya, apa yang saya pelajari bisa bantu banyak entitas di Indonesia,” tegas Rudy.

Baca juga: Lintas Dosen Unimal Lhokseumawe Adakan Pelatihan Guru MGMP Matematika

Kisah Rudy itu reminder keren untuk para Mahasiswa bahwa belajar itu timeless, usia bukan limit tapi semangat yang bikin tetap melaju kedepan. 

Nah gimana menurut kamu, semangat mencari ilmu kamu udah sama kayak kakek Rudy atau belum?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Itb-ad.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU