INDOZONE.ID - Kevin Lijaya Lukman, Pemuda Indonesia yang sukses menyabet penghargaan bergengsi Curry MSc Award, sebuah apresiasi untuk tesis geologi paling berpengaruh di seluruh Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.
Penghargaan ini menjadikan Kevin sebagai anak muda Indonesia pertama yang mencatat sejarah di dunia akademik pertambangan Inggris Raya.
Baca juga: Kisah Dr. Nadhira Nuraini Afifa, Dari Depok ke Podium Wisuda Harvard
Dari Olimpiade ke Dunia Tambang
Sejak SMP, Kevin sudah menunjukkan semangat belajarnya lewat berbagai lomba sains dan karya ilmiah. Ia pernah jadi juara nasional Olimpiade Kimia dan kompetisi ilmiah yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB).
Meski gagal di jalur undangan masuk ITB, Kevin gak menyerah. Ia mencoba jalur ujian tertulis, lalu diterima di jurusan Teknik Metalurgi, dan bahkan menjadi mahasiswa pertama di jurusannya yang lulus tercepat: hanya 3,5 tahun dari total 300 mahasiswa.
Karier Awal dan Pandemi
Setelah lulus, Kevin sempat diterima di sektor tambang. Sayangnya, pandemi COVID-19 membuat tawaran kerja itu batal. Tapi, kesempatan baru datang dari Salim Group, yang menempatkannya di bagian riset.
Di sana, Kevin membangun laboratorium penelitian hingga mengevaluasi bahan baku baterai mobil listrik.
Tapi, ia merasa ada “lubang pengetahuan” yang perlu ditambal. Tekad itu membawanya mendaftar beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi S2.
Perjuangan Berat Menuju LPDP
Jalan menuju luar negeri gak semulus bayangan. Kevin gagal tiga kali dalam tes IELTS karena skornya gak mencapai standar. Baru di percobaan keempat, tepat sehari sebelum batas pendaftaran LPDP ditutup ia berhasil lolos.
Kerja kerasnya terbayar, Kevin diterima di dua kampus top dunia, Imperial College London dan University College London.
Ia memilih Imperial karena programnya menggabungkan aspek teknik dan bisnis, yang mendukung ambisinya membangun industri tambang berkelanjutan.
Tesis yang Catatkan Sejarah
Di Inggris, Kevin fokus meneliti evaluasi proyek nikel dari sisi teknis dan finansial. Meski programnya padat 15 sub modul dalam dua tahun ia lulus dengan predikat distinction setara cumlaude.
Tesisnya dipilih sebagai yang terbaik di sekolah pertambangan Inggris Raya, menjadikannya penerima Curry MSc Award. Sebuah pencapaian yang gak hanya membanggakan dirinya, tapi juga Indonesia.
Pulang untuk Mengabdi
Baca juga: Kisah Autherine Lucy Foster: Dari Tiga Hari di Kampus ke Warisan Sepanjang Usia
Meski sempat ditawari kerja di luar negeri, Kevin memilih kembali ke Tanah Air. Baginya, ilmu yang didapat di Inggris harus dibagikan untuk bangsa.
Nah, kalau kamu jadi kevin kamu bakal milih terima tawaran untuk kerja di luar negri atau kembali mengabdi ke tanah air?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@kampunginggrism