Kamis, 30 OKTOBER 2025 • 12:37 WIB

Ketoprak Banjaran Diponegoro: Kolaborasi Rektor, Guru Besar, hingga Mahasiswa di Dies Natalis Ke-68 Undip

Author

Ketoprak “Banjaran Diponegoro”. (Foto: ZCreators @Aulia Faradiva)

INDOZONE.ID – Rabu 29 Oktober 2025, malam WIB, jadi momen yang nggak bakal dilupakan oleh civitas akademika Universitas Diponegoro (Undip).

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-68, Undip sukses menggelar pagelaran ketoprak bertajuk Banjaran Diponegoro di Gedung Prof. Soedarto, S.H., Kampus Undip Tembalang.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini, terbuka untuk umum. Acara ini pun menyedot perhatian banyak penonton, mulai dari civitas kampus, alumni, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Baca juga: FIB Undip Sukses Gelar Ketoprak “Ande-Ande Lumut”, Bukti Nyata Cinta Budaya di Usia ke-60

Kolaborasi Spektakuler Antara Pimpinan, Dosen, dan Mahasiswa

Ketoprak “Banjaran Diponegoro”. (Foto: ZCreators @Aulia Faradiva)

Pagelaran ini benar-benar jadi bukti nyata bahwa Undip bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga rumah besar yang menjaga warisan budaya Indonesia.

Dalam pementasan ini, berbagai elemen kampus tampil di atas panggung, mulai dari jajaran pimpinan, dosen, hingga mahasiswa, semuanya ikut berakting menjiwai peran.

Turut berperan dalam pementasan ini antara lain Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si.; Wakil Rektor I, Prof. Dr.rer.nat. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T.; Wakil Rektor II, Dr. Warsito Kawendar, S.E., M.Si., Akt.; Wakil Rektor III, Prof. Dr. Adian Fatchur Rochim, S.T., M.T.; Wakil Rektor IV, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D.; serta Ketua IKA Undip, Abdul Kadir Karding yang juga menjabat sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) periode 2024–2025.

Tak hanya itu, Ketua MWA Undip, Prof. Mohamad Nasir, M.Si., Akt., Ph.D., juga ikut ambil bagian, bersama Ketua Dewan Profesor, Prof. Dr. Ir. Purwanto, DEA., serta tokoh-tokoh kampus lain seperti Prof. Ir. Edy Rianto, M.Sc., Ph.D., I.P.U., dan Kepala Kantor Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus, Prof. Sri Puryono KS, M.P.

Dari kalangan akademisi dan dosen, tampil pula nama-nama besar seperti Prof. Dr. Retno Saraswati, S.H., M.Hum.; Prof. Dr. Yetty Rochwulaningsih, M.Si.; Prof. Dian Ratna Sawitri, S.Psi., Ph.D.; Prof. Dr. Endang Susilowati, M.A.; Prof. Dr. Dra. Endah Sri Hartatik, M.Hum.; Prof. Faisal, S.E., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum.; Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin.; Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk.; Prof. Sugiarto, S.Pt., M.Sc., Ph.D.; Prof. Dr. Kusworo Adi, S.Si., M.T.; Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes.; Prof. Anis Chairi, S.E., M.Com., Ph.D., Akt.; Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si.; Prof. Dr. Endang Larasati, S., M.S.; Prof. Dr. Ir. Agus Indarjo; Prof. Dr. Mohammad Djaeni, S.T., M.Eng.; Prof. Dr. Ir. Bambang Waluyo Hadi Eko P., M.M., M.Sc., Ph.D.; Prof. Dr. Dhanang Respati Puguh, M.Hum.; Prof. Dr. Ing. Ir. Suherman, S.T., M.T.; Dr. Andriyani, S.E., M.M.; dan Laura Andri Retno Martini, S.S., M.A.

Dari kalangan mahasiswa, ikut tampil Zahra Aurella Wibowo, Aufa Atha Ariq Aoraqi, Cici Ranita, Eka Fadila Cindy Kirani, Almaz, Fauzan Ahmad Hanif, Bagas Ghanesa Lintang Asmoro, Arrayan Mukti Rahardian, Haidar Abdullah Ihsan, dan Fauzan Ali Akbar.

Menambah suasana makin hangat dan lucu, hadir juga penampilan spesial dari Gareng Ali Bajaj Bajuri serta tim Ngesti Pandawa yang selalu berhasil menghadirkan tawa sekaligus makna lewat gaya khas ketoprak klasik mereka.

Baca juga: FIB Undip Rayakan Dies Natalis ke-60, Ini Rangkaian Acaranya!

Kisah Heroik sang Pahlawan dan Pesan Kebangsaan

Ketoprak “Banjaran Diponegoro”. (Foto: ZCreators @Aulia Faradiva)

Ketoprak “Banjaran Diponegoro” disutradarai oleh Sunarno dari Ngesti Pandawa dengan asisten sutradara Budi Lee, penata musik Gitunk Swara, dan diproduseri oleh Laura Andri R.M.

Cerita ini mengangkat kisah heroik Pangeran Diponegoro, sosok pahlawan nasional yang memilih berpihak kepada rakyat dan menentang penindasan kolonial Belanda.

Lewat pementasan Ketoprak Banjaran Diponegoro ini, penonton diajak menyelami perjalanan spiritual dan moral Pangeran Diponegoro, dari masa mudanya di Tegalrejo hingga memimpin perlawanan dalam Perang Jawa (1825–1830).

Nilai-nilai keberanian, keadilan, dan keteguhan iman menjadi inti pesan yang disampaikan dalam lakon ini.

Makna Budaya dan Semangat Undip

Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., yang juga menjadi koordinator acara, menyebutkan bahwa pementasan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga refleksi makna kepemimpinan dan kebangsaan.

“Lewat budaya, kita bisa belajar tentang karakter, moral, dan semangat juang,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menegaskan bahwa pementasan ini menjadi wujud komitmen Undip untuk melestarikan budaya bangsa.

“Banjaran Diponegoro adalah simbol keberanian dan integritas, dua hal yang juga jadi roh Undip sebagai universitas yang bermartabat dan bermanfaat,” ucapnya.

Baca juga: Penutupan Pameran “Jatmikaning Bumi” Karya Arie Jatmiko di FIB Undip: Kampus Jadi Panggung Seni yang HidupUndip

Ketoprak “Banjaran Diponegoro”. (Foto: ZCreators @Aulia Faradiva)

Malam itu, panggung “Banjaran Diponegoro” bukan cuma jadi tempat berkesenian, melainkan ruang untuk mengenang jati diri bangsa.

Undip menunjukkan bahwa ilmu dan budaya bisa berjalan berdampingan, mengajarkan makna perjuangan dalam bentuk yang lebih manusiawi, hangat, dan relevan dengan zaman sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU