Kamis, 18 DESEMBER 2025 • 11:28 WIB

UGM Soroti Tantangan Perguruan Tinggi di Indonesia, Hanya 5 Persen yang Tergolong Kampus Riset

Author

Ilustrasi peneliti di universitas riset (freepik)

INDOZONE.ID - Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi, tapi salah satu persoalan saat ini belum semuanya benar-benar bertransformasi jadi universitas riset dan pengabdian.

Direktur Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Mukhamad Najib, menyebut bahwa hanya lima persen perguruan tinggi yang bertransformasi jadi universitas riset.

Saat ini, pemerintah terus mendorong perguruan tinggi supaya bisa menyeimbangkan perannya dalam bidang pendidikan, dengan penelitian dan pengabdian.

Upaya ini merupakan bagian dari visi pembangunan nasional, untuk menguatkan perguruan tinggi dalam bidang riset dan pengabdian.

Baca juga: Mahasiswa ITS Ciptakan EyeXaminer, Alat Deteksi Dini Retinopati Diabetik Portable

Keinginan dan Realita yang Berbeda

Sementara itu, Dekan FMIPA UGM, Prof. Kuwat Triyana, menyebut perguruan tinggi di Indonesia saat ini sedang ada di tahap uji relevansi. Sebab, banyak anak muda yang menilai kuliah bukan jadi pilihan utama.

“Anak muda ini tidak lagi menganggap kuliah itu sebagai keputusan otomatis. Mereka lebih memilih jalur hidup lain, sepert kursus singkat, bootcamp, atau gigs economy,” jelasnya.

Kuwat menjelaskan kondisi pendidikan saat ini punya dua narasi yang kontradiksi. Negara ingin memperbanyak lulusan kampus sebagai standar, tapi individunya lebih pragmatis, seperti menghitung baliknya modal yang sudah dikeluarkan.

Selain itu, ditambah kondisi kurikulum Indonesia saat ini sudah jauh tertinggal dari berbagai negara.

“Karena itu, fokus kampus tidak cukup pada transfer ilmu, tetapi harus menjadi ekosistem penempaan yang melatih kemampuan memecahkan masalah nyata,” terangnya.

Baca juga: UNDIP Kirim Teknologi Penjernih Air Bersih ke Sumatra Barat, Bisa Layani 5.000 Orang per Hari

Pentingnya Pengabdian Masyarakat

Kuwat juga menyoroti bahwa pengabdian masyarakat ini harus dilakukan oleh perguruan tinggi. Sebab, sampai sekarang, program pengabdian kampus di Indonesia masih tertinggal.

“Jadi, banyak pengabdian kepada masyarakat berhenti pada output administrasi, jumlah kegiatan, foto, laporan, dan ini belum sampai menyentuh pada outcome atau dampak yang terukur,” jelasnya.

Menurutnya, kerja pengabdian kampus bisa berdampak pada penurunan biaya kesehatan masyarakat, peningkatan produktivitas, dan penurunan risiko. 

Ia juga menyebut salah satu masalah dari program ini adalah ketidaksesuaian topik riset dengan kondisi masyarakat sekarang. Ini tidak terlepas dari pemilihan topik ditentukan karena kemudahan pengerjaan saja. 

“Jadi, tidak dikaitkan sana. Juga tidak ada stakeholder mapping sejak awal. Siapa penerima manfaat, siapa pengambil keputusan adopsi, siapa yang membiayai, itu belum ada,” jelasnya.

Baca juga: Unhas Gandeng Kampus China untuk Kolaborasi Penguatan Bidang Kelautan dan Perikanan

Soroti Regulasi dan Kurikulum Kaku

Baginya, perguruan tinggi harus jadi jembatan realita hari ini untuk kebutuhan pada masa depan, khususnya lewat program pengabdian masyarakat tersebut.

Ia menyarankan pemerintah untuk memperbaiki regulasi, supaya kampus bisa langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ia juga ingin perubahan pada struktur kurikulum yang dianggap terlalu kaku.

Selain itu, Kuwat berharap pemerintah bisa melakukan inovasi. Sebab, kampus tidak mungkin melakukannya seorang diri.

“Kampus tidak hanya sendirian sehingga kebijakan perlu difasilitasi,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ugm.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU