Revolusi Mencuci! Mahasiswa UMS Ciptakan Detergen Stik Ramah Lingkungan Berbalut Edible Film dari Pati Singkong
INDOZONE.ID - Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan inovasi detergen ramah lingkungan bernama “Degsalture”.
Detergen ini dikemas unik dalam bentuk stik, dibungkus menggunakan edible film (lapisan yang dapat dimakan) berbahan dasar pati singkong.
Baca juga: UPI Membuat Inovasi Sampah Organik Jadi Telur Omega Super Melalui Program MoMA
Yulia Fitriyani, ketua tim yang merupakan mahasiswa Pendidikan Biologi UMS, menjelaskan bahwa ide Degsalture muncul dari keresahan melihat saluran air yang sering dipenuhi busa limbah laundry.
“Sering lihat selokan penuh busa dari laundry. Kalau kesapu hujan bisa masuk ke sungai. Padahal itu bahan kimianya berat,” ungkapnya.
Di kawasan perkotaan, limbah rumah tangga, termasuk detergen, bisa menurunkan kualitas sungai, khususnya di daerah dengan kepadatan usaha laundry rumahan yang tinggi.
Tim terdiri dari Yulia Fitriyani, Intan Mega Puspita, Raisya Najwatu Zahra (ketiganya dari Pendidikan Biologi), Hilda Putri Aulia (Teknik Kimia), dan Agviolisa Kusuma Wardhani (Farmasi), menyadari adanya kebutuhan akan detergen.
Baca juga: UNDIP Kirim Teknologi Penjernih Air Bersih ke Sumatra Barat, Bisa Layani 5.000 Orang per Hari
Degsalture diciptakan menggunakan formulasi tanpa menggunakan bahan kimia bermasalah seperti SLS, pemutih, dan fosfat, sekaligus aman bagi lingkungan dan kulit.
Kekuatan Alami dan Inovasi Kemasan
Degsalture mengandalkan dua bahan alami, yaitu daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan daun sage (Salvia officinalis L.).
Daun jambu biji mengandung berbagai senyawa aktif, termasuk saponin, flavonoid, dan tanin, yang dapat membantu proses pembersihan tanpa menimbulkan kerusakan pada perairan.
Sementara itu, daun sage mengandung vitamin, seng, serta senyawa aktif lain yang berfungsi sebagai antibakteri, antijamur, antioksidan, hingga antialergi.
“Kombinasi kedua daun ini membuat Degsalture memiliki daya bersih yang cukup optimal tanpa merusak lingkungan dan tetap aman bagi kulit sensitif maupun lingkungan,” ujar Yulia.
Baca juga: Mahasiswa Teknik Lingkungan UPER Pelajari Pengelolaan Limbah Berkelanjutan di Lapangan
Untuk meningkatkan efektivitas pembersihan, tim menambahkan enzim protease guna mengangkat noda berbasis protein seperti sisa makanan dan keringat.
Degsalture mulai dikembangkan sejak Yulia berpartisipasi dalam kompetisi esai ilmiah pada tahun 2024, lalu diajukan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bawah Ditjen Diktiristek pada 2025.
Proposal lolos pendanaan setelah melalui serangkaian uji lab—mulai dari uji pH, organoleptik, hingga kadar air—di Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Kota Surakarta.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa detergen ini stabil, aman, dan tidak kehilangan daya bersihnya.
Tim memastikan bahwa selain kemasan stik yang dibalut edible film, dus luar produk juga dibuat dari kardus biodegradable, sejalan dengan visi untuk tidak menciptakan masalah sampah plastik baru.
Tantangan dan Ekspansi Pasar
Batch pertama Degsalture yang berjumlah 50 kemasan telah dipasarkan melalui kanal daring, termasuk Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop. Satu kemasan Degsalture berisi 10 stik, dan dijual dengan harga Rp23.000.
“Tantangan kami sekarang adalah edukasi. Banyak yang memilih detergen murah tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan kulit. Detergen SLS yang dijual dipasaran itu kan murah-murah sekali, dan kami juga harus bersaing diharga,” tutur Yulia.
Saat ini, tim tengah merancang versi detergen cair dan berencana mengikuti kompetisi internasional, serta bekerja sama dengan petani jambu biji dan sage untuk rantai pasok yang berkelanjutan.
Untuk perlindungan inovasi, mereka juga telah mengajukan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk poster produk dan telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem OSS.
Baca juga: Anti Kesepian di Kelas Virtual! Bongkar 5 Strategi Ampuh Tambah Teman Kuliah Daring
Melalui Degsalture, Yulia dan tim berharap masyarakat sadar bahwa kebiasaan mencuci yang baik harus memperhatikan keberlanjutan bumi dan tidak mengabaikan kesehatan kulit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ums.ac.id