Selasa, 31 MARET 2026 • 19:00 WIB

Dari UMS ke Papua: Kisah Pengabdian Alfin Mengajar di Tanah Timur

Author

Beberapa siswa kelas 5 SD Muhammadiyah Sentani sedang membaca sebuah buku yang Alfin bawakan untuk bahan ajar (ums.ac.id)

INDOZONE.ID - Menjalani pengabdian di wilayah paling timur Indonesia bukanlah tugas yang ringan bagi Alfin Nur Ridwan.

Lulusan Hukum Ekonomi Syariah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini harus berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari jarak yang jauh, perbedaan budaya, hingga masalah sosial di Sentani, Jayapura. 

Baca juga: Lebaran dan Potensi Lonjakan Sampah Makanan, Dosen IPB University: Budaya Konsumsi Kita Perlu Dibenahi

Alfin memulai perjalanannya pada 30 Januari 2026. Awal kedatangannya sempat diwarnai rasa was-was akibat cerita dari penduduk setempat mengenai tingkat kriminalitas, seperti pencurian motor dan pemalakan di beberapa titik.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi minuman keras di sebagian kelompok masyarakat juga menjadi hal yang menuntutnya untuk selalu waspada dan lebih berhati-hati dalam memilih waktu beraktivitas.

Namun, di balik kewaspadaanya, Alfin menemukan sisi lain dari masyarakat Papua yang hangat. Ia menyadari bahwa kunci hidup berdampingan di sana adalah rasa hormat yang tulus.

Selama pendatang hadir dengan niat baik dan tidak bersikap merendahkan, warga asli Papua justru akan sangat terbuka dan penuh kepedulian.

Tantangan terbesarnya justru muncul di dalam ruang kelas. Menurutnya, mengajar anak-anak sekolah dasar ternyata menuntut kesabaran yang luar biasa. 

“Dunia saya sebelumnya dipenuhi dengan diskusi, tulisan, dan analisis. Sementara di sini, saya berhadapan dengan anak-anak yang dunia berpikirnya masih dalam proses perkembangan kognitif, namun justru di situlah letak kerumitannya,” ungkap Alfin.

Baca juga: Di Usia 35 Tahun, Wanita Asal Papua Ini Berhasil Jadi Lulusan Dokter Spesialis Tercepat di UGM

Alfin melihat bahwa masalah utama yang dihadapi siswa-siswinya bukanlah soal kecerdasan, melainkan fondasi karakter.

Ia sering menjumpai perilaku anak yang emosional, tutur kata yang kasar, hingga minimnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua.

Meskipun ia menyadari perubahan karakter tidak bisa terjadi dalam semalam, Alfin tetap optimis bahwa setiap kata dan keteladanan yang ia berikan akan membekas di ingatan anak-anak tersebut.

“Mungkin hari ini mereka belum mengerti, tetapi suatu saat nanti, bisa jadi mereka akan mengingat, bahwa pernah ada seseorang di ruang kelas yang mencoba memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda,” tuturnya.

Selain mengajar di sekolah formal, Alfin juga meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak di sekitar tempat tinggalnya membaca Al-Qur'an.

Di tengah lingkungan yang mayoritas non-Muslim, kegiatan ini menjadi cara penting baginya untuk menjaga identitas agama generasi muda sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan. 

Baca juga: Mahasiswa KKN UAD Edukasi Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Sehat di Desa Bojong Kulon Progo

Alfin berharap anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Dan mungkin, di sinilah letak esensi dari pengabdian itu sendiri. Diri saya tidak selalu diukur dari seberapa besar perubahan yang akan saya hasilkan, tetapi dari seberapa tulus diri ini menjalani prosesnya,” ujarnya.

Setelah menjalani pengabdian selama dua bulan, Alfin memahami bahwa perjalanannya bukan sekadar tentang upaya mengubah Papua, melainkan proses untuk mendewasakan dan mengubah dirinya sendiri.

“Di tanah yang jauh dari rumah ini, saya belajar menjadi manusia, yang berarti siap untuk terus belajar tentang perbedaan, tentang kewaspadaan, dan tentang makna dari sebuah pengabdian.”

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ums.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU