INDOZONE.ID – Untuk sebagian orang, menulis bukan sekadar kegiatan merangkai kata. Bagi mahasiswa semester dua Program Studi Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Najwa Lathiifah Saepudin, menulis adalah caranya untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung.
Ketertarikannya pada dunia literasi sudah tumbuh sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Ia mulai menuangkan pikirannya dalam bentuk puisi, sebagai cara menyalurkan emosi dan cerita yang dirasakan.
Melihat potensi tersebut, sang ibu mendorong Najwa untuk mulai membukukan karya-karyanya.
Baca juga: Ingin Jadi Dosen? Ini Jenjang Karier dan Syarat yang Harus Kamu Ketahui
Dari sanalah lahir buku pertamanya berjudul "Love Rhymes for Him" yang memuat 99 puisi. Buku ini menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi karya-karya berikutnya, termasuk antologi puisi kedua berjudul "Scratched by Love."
“Menulis adalah caraku untuk menyampaikan isi hati terdalam yang bahkan dunia pun tak mampu merasakannya. Aku ingin mereka tahu bahwa ada banyak bentuk rasa di dunia ini, dan semua rasa itu layak untuk didengarkan," ujarnya.
Najwa mengungkapkan bahwa menulis adalah medianya untuk menyampaikan emosi yang mungkin tidak semua orang lain dapat pahami.
Tak berhenti di puisi, ia lalu mulai mengembangkan cerita panjang hingga melahirkan seri novel "Dance of Destiny" yang kini telah mencapai enam judul dengan ragam genre.
Baca juga: 5 Situs Andalan Mahasiswa untuk Cari Referensi Skripsi Gratis, Lengkap dan Mudah
Dalam seri ini, Najwa mengeksplorasi berbagai tema, mulai dari romance berlatar kerajaan, drama religi, hingga kisah dark romance.
Ia juga mencoba genre fantasi melalui "The Mannequin" serta drama berlatar medis dalam novel berjudul "Heartbeat."
Dari seluruh karya yang telah diterbitkan, novel kelima berjudul "The Authority of Mr. Maximilian Luo Chengxiao" menjadi yang paling diminati oleh pembaca.
Novel ini mengangkat isu serius tentang perdagangan manusia dengan pesan kuat mengenai konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Najwa tetap mampu menjaga produktivitasnya dalam menulis. Ia memiliki cara tersendiri dalam mengatur waktu.
"Aku menulis ketika ada ide muncul. Kalau belum ada ide, aku memutuskan untuk rehat sejenak. Intinya, selesaikan naskah dulu, revisi belakangan," paparnya.
Baginya, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan, bukan tekanan.
Baca juga: Mau Punya Karier Mulus? Ini Bekal yang Harus Disiapkan Mahasiswa Sejak Bangku Kuliah
Sementara itu, untuk urusan akademik, ia memilih menyelesaikan tugas lebih awal agar tidak menumpuk dan tetap memiliki waktu luang untuk berkarya.
Motivasi terbesarnya dalam menulis adalah meciptakan pengalaman bagi para pembaca dari segi emosional.
Melalui “Dance of Destiny," Najwa membuktikan bahwa kebiasaan sederhana seperti menulis sejak sekolah bisa berkembang menjadi karya nyata yang menginspirasi banyak orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uinjkt.ac.id