INDOZONE.ID - Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) menorehkan prestasi di kancah nasional melalui inovasi yang berfokus pada ketahanan pangan berkelanjutan.
Tiga mahasiswa dari program studi Administrasi Perkantoran yang tergabung dalam tim “Dikejar Deadline” berhasil menciptakan sebuah sistem bank pangan digital bernama Nutri-Chain.
Berkat ide kreatif ini, mereka mendapatkan penghargaan Bronze Award dalam kompetisi esai tingkat nasional pada ajang KPM International SDGs Competition 2026, yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada awal Mei lalu.
Baca juga: UI Half Marathon 2026 Resmi Dibuka, Targetkan Lebih dari 7.000 Pelari
Menjawab Tantangan Stunting dan Pemborosan Pangan
Lahirnya inovasi Nutri-Chain didasari oleh keprihatinan terhadap dua masalah besar yang saling bertolak belakang di Indonesia.
Di satu sisi, angka kekurangan gizi kronis atau stunting pada balita masih menjadi tantangan serius, dengan prevalensi mencapai 19,8% di tahun 2024.
Di sisi lain, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah pembuangan makanan (food waste) rumah tangga terbesar di Asia Tenggara, yakni mencapai sekitar 14,73 juta ton per tahun.
Menurut para mahasiswa, yakni Nafisah Nurhafizhah, Aura Aulia Azzahra, dan Farrel Ezra Julio Tampubolon, persoalan utama sebenarnya bukan pada kurangnya jumlah makanan, melainkan pada sistem distribusi yang tidak merata serta pengelolaan pangan yang belum maksimal.
Baca juga: Mahasiswa UM Ubah Ganyong Jadi Cookies Kekinian, Buktikan Pangan Lokal Punya Daya Saing
Cara Kerja Nutri-Chain: Teknologi IoT dan Transparansi Bantuan
Nutri-Chain dirancang sebagai ekosistem digital yang menghubungkan para pendonor pangan dengan keluarga yang berisiko stunting.
“Melalui Nutri-Chain, donor pangan seperti UMKM, petani, maupun pelaku usaha lainnya dapat menyalurkan bahan pangan layak konsumsi melalui aplikasi digital,” jelas Nafisah.
Untuk menjaga agar kualitas makanan tetap segar dan aman dikonsumsi, sistem ini dilengkapi dengan teknologi Internet of Things (IoT) pada ruang penyimpanan dingin atau cold storage.
Sensor IoT akan memantau kondisi makanan secara otomatis sebelum nantinya disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Proses penyalurannya pun dibuat sangat rapi dan transparan. Kader posyandu berperan melakukan pendataan calon penerima bantuan yang kemudian akan divalidasi oleh pihak RT/RW setempat.
Jika sudah terverifikasi, warga akan mendapatkan Smart Nutri-Voucher berbasis kode QR. Voucher digital ini digunakan untuk mengambil bahan pangan bergizi secara tepat sasaran, sehingga risiko bantuan salah alamat atau disalahgunakan dapat diminimalisir.
Baca juga: 450 Ribu Porsi dalam Setahun! UNDIP Jamin Gizi Mahasiswa Lewat Food Truck Gratis
Dukungan Akademik dan Harapan Masa Depan
Keberhasilan inovasi ini tidak lepas dari bekal ilmu yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan, seperti mata kuliah Sistem Informasi Manajemen, Aplikasi Komputer, hingga Hubungan Masyarakat.
Dr. Safrin Arifin, selaku Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, memberikan apresiasi tinggi untuk mahasiswa.
“Inovasi Nutri-Chain menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menghubungkan kompetensi yang dipelajari di perkuliahan dengan solusi nyata yang relevan terhadap tantangan global, khususnya isu stunting dan ketahanan pangan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui prestasi ini, tim berharap Nutri-Chain tidak hanya sekadar menjadi ide dalam kompetisi, tetapi bisa dikembangkan lebih jauh menjadi proyek percontohan di daerah-daerah yang memiliki angka stunting tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Vokasi.ui.ac.id