Sabtu, 20 JUNI 2026 • 18:15 WIB

Unpad Berdayakan Warga Desa Sagaracipta, Ajarkan Kendali Penyakit Kronis hingga Mitigasi Bencana

Author

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Desa Sagaracipta dalam Pengendalian Penyakit Kronis dan Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Keperawatan Berkelanjutan” di Desa Sagaracipta Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung (unpad.ac.id)

INDOZONE.ID - Departemen Keperawatan Medikal Bedah, Gawat Darurat, dan Kritis dari Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar pengabdian masyarakat di Desa Sagaracipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.

Kegiatan yang berlangsung pada 3 Juni 2026 ini mengusung tema besar mengenai pemberdayaan warga dalam mengendalikan penyakit kronis serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Acara dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari perangkat desa, kader kesehatan, petugas Puskesmas Pakutandang, hingga jajaran dosen dan mahasiswa Unpad.

Program terdiri dari rangkaian kegiatan berkelanjutan yang dimulai sejak Mei hingga Agustus 2026, mencakup survei awal, pelaksanaan, hingga tahap evaluasi.

Deteksi Dini Kesehatan Warga 

Kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga desa. Petugas melakukan pengukuran tekanan darah, cek gula darah sewaktu, serta penimbangan berat badan dan tinggi badan untuk menyaring risiko penyakit tidak menular (PTM).

Sebelum materi diberikan, warga juga diminta mengisi pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman awal mereka mengenai kesehatan dan tanggap darurat.

Prof. Kusman Ibrahim, Kepala Departemen terkait di Unpad, menjelaskan bahwa tantangan kesehatan saat ini sangat kompleks.

“Penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan ginjal menjadi penyebab utama menurunnya kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Selain masalah kesehatan, ia juga menyoroti pentingnya kesiapan mental dan fisik dalam menghadapi situasi darurat.

Pemeriksaan kesehatan gratis untuk warga Desa Sagaracipta (unpad.ac.id)

Waspada Risiko Bencana di Kabupaten Bandung 

Salah satu poin penting yang diangkat dalam kegiatan ini adalah posisi Kabupaten Bandung yang berada di peringkat ke-11 daerah dengan risiko bencana tertinggi, dengan skor Indeks Risiko Bencana (IRB) mencapai 117,13.

Angka ini menempatkan wilayah tersebut dalam kategori kerawanan menengah hingga tinggi.

Melihat kondisi geografis tersebut, tim Unpad memberikan pembekalan khusus mengenai mitigasi bencana, terutama terkait ancaman tanah longsor.

Warga diajarkan cara melapor saat terjadi musibah serta memperkuat koordinasi antar-tetangga ketika keadaan darurat terjadi.

Menariknya, edukasi yang dilakukan juga menggabungkan kearifan lokal atau pengetahuan adat yang selama ini dimiliki masyarakat setempat dalam menghadapi bencana.

Keterampilan yang Menyelamatkan Nyawa 

Materi yang paling menyita perhatian warga adalah simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru (CPR).

Dengan bimbingan para dosen dan mahasiswa, warga mempraktikkan langsung cara menolong orang yang pingsan atau henti jantung menggunakan manekin.

Mereka diajarkan cara mengecek kondisi korban, menelepon bantuan, hingga melakukan kompresi dada yang benar.

Selain itu, tim yang dipimpin oleh Dr. Etika Emaliawati dan Hesti Platini memberikan edukasi interaktif mengenai deteksi dini stroke dan kondisi gawat darurat akibat kadar gula darah yang terlalu rendah atau tinggi.

Harapannya, masyarakat tidak lagi panik saat menemukan anggota keluarga yang mengalami gejala serangan jantung atau stroke, melainkan mampu memberikan pertolongan pertama yang tepat sebelum dibawa ke rumah sakit.

Apresiasi dan Harapan Ke Depan 

Pihak Desa Sagaracipta melalui Sekretaris Desa, Dadang Ruslan, menyampaikan rasa syukur atas ilmu yang dibagikan oleh Unpad. Ia berharap melalui pelatihan yang diadakan, warganya bisa lebih mandiri dan sehat.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan Puskesmas Pakutandang, Bidan Entin Suhartini, merasa terbantu karena kegiatan ini sejalan dengan tugas Puskesmas dalam meningkatkan derajat kesehatan warga.

Dr. Etika Emaliawati menegaskan bahwa program ini adalah langkah awal kemitraan jangka panjang.

“Kami berharap masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga peningkatan kapasitas dalam menjaga kesehatan keluarga, mengenali kondisi kegawatdaruratan sejak dini, serta berpartisipasi aktif dalam sistem kesiapsiagaan bencana di tingkat desa,” jelasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unpad.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU