Alumni FK UNDIP, dr. Dewi Sartika, Sp.BS (undip.ac.id)
INDOZONE.ID – Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP), dr. Dewi Sartika, Sp.BS, mengabdikan dirinya sebagai dokter spesialis bedah saraf di RSUD Harapan Insan Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Ia memberikan harapan baru bagi masyarakat di daerah terpencil, tempat pemerataan layanan kesehatan pada wilayah pelosok Indonesia masih menjadi tantangan nyata hingga saat ini.
Keputusan dr. Dewi untuk bertugas di daerah yang masuk kategori Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) sangat menguntungkan bagi warga setempat.
Kehadirannya menjadi tonggak penting untuk layanan kesehatan di daerah tersebut. Kini, masyarakat Kutai Barat dapat mengakses tindakan bedah saraf secara langsung tanpa harus menempuh perjalanan panjang.
Keberadaan dr. Dewi mempercepat penanganan medis, terutama pada kasus-kasus darurat yang mengancam nyawa. Dalam kesehariannya, ia menangani berbagai kondisi medis yang sangat kompleks dan berisiko tinggi.
Kasus yang pernah tangani meliputi cedera kepala berat akibat kecelakaan, stroke perdarahan, penumpukan cairan di otak atau hidrosefalus, tumor otak, hingga gangguan saraf pada tulang belakang.
Menjadi seorang dokter bedah saraf perempuan di daerah dengan keterbatasan fasilitas tentu bukan perkara mudah.
Baca juga: Di Usia 35 Tahun, Wanita Asal Papua Ini Berhasil Jadi Lulusan Dokter Spesialis Tercepat di UGM
Ia dituntut untuk memiliki ketelitian tinggi, kecepatan dalam mengambil keputusan medis yang tepat, serta ketangguhan mental yang kuat dalam menghadapi tekanan di ruang operasi.
Inspirasi untuk mengabdi di daerah pelosok ini ia dapatkan selama menempuh pendidikan di FK UNDIP.
“Setiap dosen yang mengajar di FK Undip senantiasa mengajarkan bahwa masih banyak daerah di pelosok Indonesia yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Di sanalah peran kita sebagai dokter dibutuhkan,” paparnya.
Pengalaman selama masa pendidikan klinik di RSUP Dr. Kariadi juga membentuk insting medisnya menjadi sangat tajam.
Bahkan, ketika fasilitas penunjang di rumah sakit daerah terbatas, ia tetap mampu memberikan pelayanan terbaik dengan mengandalkan kemampuan pemeriksaan fisik dan komunikasi pasien yang disiplin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Undip.ac.id