Menggali Jejak Histori Kopi Cap Tugu Juang: Dari Akar Kopi hingga Budaya Minum di Pulosari Pemalang
INDOZONE.ID - Indonesia merupakan salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia, menempati posisi ketiga setelah Brasil dan Vietnam, dengan kontribusi sekitar 6% dari total produksi kopi global. Selain itu, Indonesia juga menjadi pengekspor kopi terbesar keempat dunia, menyumbang sekitar 11% dari pangsa pasar ekspor kopi internasional. Posisi strategis sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam menjadikan Indonesia sebagai pusat penting dalam sejarah perdagangan komoditas dunia, termasuk kopi.
Meskipun kopi bukan tanaman asli Indonesia, keberadaannya telah begitu melekat dalam budaya masyarakat. Sejarah mencatat bahwa kopi pertama kali diperkenalkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada akhir abad ke-17 sebagai bagian dari strategi menghentikan dominasi Arab dalam perdagangan kopi dunia. Bibit kopi Arabika yang dibawa dari Mocha, Yaman, pertama kali ditanam di Batavia (kini Jakarta), lalu menyebar ke daerah dataran tinggi seperti Bogor, Sukabumi, dan Priangan, setelah diketahui tanaman ini tidak cocok tumbuh di dataran rendah.
Pada tahun 1726, VOC telah menguasai sekitar 75% perdagangan kopi dunia berkat hasil panen dari perkebunan di Jawa, yang dikenal dengan nama Javakoffie. Keuntungan besar dari komoditas ini mendorong ekspansi perkebunan ke wilayah lain seperti Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Timor. Seiring meningkatnya permintaan pasar global, daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi menjadi pusat produksi kopi penting di Nusantara.
Baca juga: KKN 49 UPGRIS Bikin Produk Minuman Kopkastu dan Fasilitasi Foto Produk untuk Pelaku UMKM
Salah satu daerah penghasil kopi di Kabupaten Pemalang adalah Kecamatan Pulosari, yang terletak di ketinggian 914 mdpl. Desa Pulosari, yang berada di kecamatan ini, memiliki lokasi ideal untuk budidaya kopi. Pada tahun 2016, desa ini tercatat memproduksi sekitar 150.000 kg kopi dalam setahun. Berdasarkan data Statistik Perkebunan tahun 2018–2020, pengembangan komoditas kopi di wilayah tersebut meliputi:
- Tahun 2018: Luas lahan 331,61 hektar, produksi 210,60 ton kopi Arabika.
- Tahun 2019: Luas lahan 364,61 hektar, produksi 217,52 ton kopi Arabika.
- Tahun 2020: Luas lahan 366,61 hektar, produksi 229,26 ton kopi Arabika.
Salah satu pelaku UMKM kopi dari Desa Pulosari adalah Kopi Pulosari Cap Tugu Juang, yang dikelola oleh Wasito Al Hasan sejak tahun 2016. UMKM ini tidak hanya menjual kopi dalam bentuk biji, tetapi juga menyediakan kopi bubuk dan minuman siap saji di kedai kopi yang berlokasi di depan rumah Hasan.
Hasan memiliki kebun kopi seluas 2 hektar di Kebun Kopi Pulosari serta kebun tambahan di lereng Gunung Slamet. Kebun di lereng tersebut dikelola melalui sistem kemitraan bagi hasil dengan Perhutani, dengan pembagian 70% untuk Hasan dan 30% untuk Perhutani. Sistem ini dilakukan setiap tahun.
Dalam proses penamaan UMKM-nya, Hasan tak sembarangan. Ia berharap usahanya menjadi perjalanan karier yang baik. Kata “Kopi” dipilih sebagai identitas utama produk. Nama “Pulosari” digunakan untuk memperkenalkan daerah asalnya ke khalayak luas, sementara “Cap Tugu Juang” mengacu pada ikon yang berada di Desa Pulosari dan menjadi simbol dari kampung halamannya. Kopi Pulosari Cap Tugu Juang juga memiliki slogan khas, yaitu “Niki Eco”, yang berarti “Ini Enak” dalam Bahasa Jawa.
Desa Pulosari dikenal bukan hanya karena sejarah perjuangannya, tetapi juga karena kontribusinya dalam sektor pertanian, khususnya kopi. Di sini, kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Tradisi minum kopi sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, yang tidak hanya dilakukan untuk menikmati rasa, tetapi juga mempererat hubungan sosial.
Baca juga: Aneh Tapi Nyata! Mahasiswa UNY Sulap Daun Kelor Jadi Kopi
Beberapa wujud tradisi kopi di Pulosari, antara lain:
- Minum kopi sebagai tradisi harian
Kopi disajikan hangat sebagai teman pagi sambil bercengkrama bersama keluarga, tetangga, atau saat bersantai sendiri di beranda rumah. - Simbol kehangatan sosial
Menyajikan kopi merupakan bentuk penghormatan terhadap tamu. Kopi sering dihidangkan dalam acara keluarga, kenduri, arisan, hingga rapat desa. - Kopi sebagai identitas lokal
Banyak warga menanam kopi di pekarangan atau ladang. Aktivitas seperti menanam, memetik, menjemur, dan menyangrai kopi masih dilakukan secara manual dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan