Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 21:35 WIB

Inovasi Canggih Mahasiswa ITS! Deteksi Dini TBC Cukup Lewat Rekaman Suara Batuk Berbasis AI

Author

Salah satu anggota tim TBCare ITS Nikolas Stanislaus Sanjaya (kanan) melakukan proses fabrikasi rangkaian elektronik pada perangkat lunak alat perekaman suara batuk (its.ac.id)

INDOZONE.ID - Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam tim TBCare menciptakan inovasi sistem deteksi dini TBC yang hanya menggunakan rekaman suara batuk.

Hal ini berangkat dari adanya tantangan besar Indonesia di dunia kesehatan, yang menjadi negara dengan beban kasus Tuberkulosis (TBC) terbesar kedua di tingkat global. 

Kondisi tersebut diperparah oleh sulitnya akses masyarakat terhadap alat diagnosis standar yang memadai. 

Baca juga: USU Berikan Layanan Kesehatan Gratis dan Dukungan Psikososial bagi 355 Korban Banjir Medan Marelan

Mengubah Suara Batuk Menjadi Data Medis

Penyakit TBC yang dipicu oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis umumnya ditandai dengan gejala batuk kronis yang berlangsung selama lebih dari dua minggu.

Nathania Cahya Romadhona, selaku ketua tim, mengungkapkan bahwa suara batuk sebenarnya menyimpan pola spektral tertentu yang sangat kompleks dan tidak beraturan.

“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal secara komprehensif,” ujarnya. 

Baca juga: UI akan Buka Prodi S1 Kecerdasan Buatan Pertama di Indonesia

Untuk mengatasi kerumitan tersebut, timnya memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan tingkat lanjut atau deep learning.

Dalam prosesnya, suara batuk pasien divalidasi dengan sistem bernama Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet).

“Model ini memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi dan validasi suara batuk dalam berbagai kondisi lingkungan,” tambahnya. 

Ketua tim TBCare ITS Nathania Cahya Romadhona (kiri) melakukan pengambilan sampel suara batuk pasien di fasilitas kesehatan (its.ac.id)

Baca juga: Tekan Kasus Diare Balita yang Tinggi di Bogor, FKM UI Edukasi Warga Gunakan Teknologi Biopori

Selanjutnya, tim melakukan ekstraksi fitur suara dan memprosesnya melalui model Long Short-Term Memory (LSTM) yang telah dimodifikasi.

Tujuannya adalah agar sistem dapat membedakan dengan akurat mana suara batuk yang mengarah pada gejala TBC dan mana yang bukan.

Perangkat Portabel yang Terhubung dengan Rumah Sakit

Inovasi yang diciptakan tidak hanya berhenti pada perangkat lunak saja. Tim TBCare juga merancang sebuah alat perekam suara portabel yang terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT).

Alat ini didesain agar sangat mudah digunakan oleh kader kesehatan di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil.

Keunggulan utamanya adalah kemampuan alat untuk terhubung langsung dengan basis data rumah sakit, sehingga pengiriman data medis pasien dapat dilakukan secara cepat dan efisien. 

Baca juga: Borong Penghargaan, Mahasiswa Arsitektur UB Unjuk Inovasi Melalui Ajang Design & Dialogue 2025

Validasi Medis dan Prestasi di Kancah Nasional

Berdasarkan uji yang telah dilakukan melalui validasi medis, sistem menunjukkan tingkat kepekaan atau sensitivitas mencapai 76 persen dalam mengenali batuk TBC.

Sistem juga telah dikembangkan menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).

Keberhasilan dalam pengembangan teknologi tersebut juga berhasil menyabet medali emas dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2025 pada kategori Karsa Cipta. 

Baca juga: Respons Bencana Sumatera, UGM Kirim Tenaga Medis ke Daerah Terdampak Setiap Pekan

Selain mencetak prestasi, karya inovatif mahasiswa ITS juga menjadi langkah nyata dalam menjamin kehidupan sehat dan mengurangi ketimpangan akses kesehatan.

Melalui alat ini, diharapkan Indonesia dapat selangkah lebih dekat menuju penghapusan penyakit TBC sepenuhnya pada tahun 2030.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Its.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU