Kegiatan kuliah umum UINJakarta hari ini Selasa (14/10/25) (INDOZONE/Sufaira Thoibah)
INDOZONE.ID - Profesi jurnalis begitu membanggakan. Berdiri di sisi kebenaran dan idealisme, jurnalis dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya.
Namun, melihat keadaan sekarang, banyak wartawan, reporter, hingga perusahaan media yang terkena badai hingga melakukan PHK. Pertanyaan besar pun muncul, "Apakah profesi ini masih menjanjikan?"
Baca juga: CEO Indozone Ungkap Strategi Bisnis Media di Era AI di Hadapan Mahasiswa UIN Jakarta
Kekhawatiran generasi muda inilah yang menjadi fokus utama pembahasan Fahmy Fotaleno, Pemimpin Redaksi INDOZONE, dalam kuliah umum bertema “Bisnis Media di Era Digital: Strategi Bisnis dan Realitas Fenomenologi” di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Kegiatan yang digelar di Ruang Teater Lantai 2 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) ini, menghadirkan pakar ilmu komunikasi sekaligus Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Engkus Kuswarno, M.S., serta dua pembicara yaitu Riel Tasmaya, CEO Indozone, dan Fahmy Fotaleno.
Baca juga: Pimred Indozone Soroti Tantangan Media di Era Sosmed dan AI di Depan Mahasiswa Universitas Moestopo
Riel Tasmaya dan Fahmy Fotaleno berbagi pandangannya mengenai tantangan media masa kini dari perspektif akademisi hingga praktisi.
Fahmy Fotaleno, Pemimpin Redaksi Indozone Media (INDOZONE/Sufaira Thoibah)
Fenomena yang dihadapi industri media saat ini, memang tidak mudah. Fahmy Fotaleno, dalam pemaparannya, mengutip data Dewan Pers bahwa dari total PHK di industri media, sekitar 80 - 85 persen adalah wartawan.
Banyak jurnalis banting setir menjadi dosen, PR, hingga pengusaha karena merasa profesi ini tak lagi stabil secara finansial.
Baca juga: Pemred Indozone Kupas Tantangan Jurnalisme AI di Indonesia Punya Kamu Goes to Campus Trisakti
Perilaku audiens yang kini lebih berorientasi pada TikTok atau Instagram, ketimbang portal berita atau media konvensional, seperti koran, televisi, dan radio, juga mendorong media untuk bertransformasi.
“Media konvensional harus beradaptasi ke format digital dan multiplatform. Kalau dalam tiga detik tulisan kita tidak bisa memberi impresi, pembaca akan langsung scroll next,” ujar Fahmy Fotaleno.
Namun, dilema ini makin kompleks dengan hadirnya AI (Artificial Intelligence). Apakah AI menjadi ancaman atau justru membantu? Kehadiran AI memang memberi banyak kemudahan, tapi di sisi lain, pekerjaan jurnalis juga menjadi lebih mudah digantikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan